1 Emas, 1 Perak, 1 Perunggu dan 1 Semifinalis


Tiga medali yang terdiri atas emas, perak dan perunggu serta satu semifinalis merupakan hasil akhir yang diperoleh oleh para atlet bulutangkis Indonesia setelah berjibaku menguras stamina dan mental dalam 9 hari perhelatan akbar Olimpiade Beijing 2008. Meskipun hasil ini melenceng dari target yang diharapkan namun jika bercermin dari hasil 4 tahun lalu, prestasi Indonesia kali ini cukup mengalami peningkatan.

Ganda Campuran, NoLyn & FlaVi Kalah Agresif

Usia memang tidak bisa dibohongi. Itulah yang mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kekalahan dua ganda Indonesia di laga pamungkas dalam perebutan medali emas dan perunggu. Meskipun dari sisi pengalaman keduanya lebih matang atas lawan-lawannya, stamina mereka yang cukup terkuras di pertandingan mereka sebelumnya membuat hasil tidak maksimal di set kedua. Agresivitas He/Yu dan duo Lee yang tidak terbendung akhirnya berubah menjadi tekanan yang mengunci permainan ganda Indonesia meskipun secara kualitas kedua pasangan muda ini masih belum mampu tampil rapi.

Membuka perburuan medali di hari terakhir cabang bulutangkis Olimpiade 2008, Flandy/Vita kembali harus berjuang keras di babak playoff menghadapi perlawanan duo Cina, He Hanbin/Yu Yang setelah peringkat tiga dunia tersebut kalah dari duet Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae di pertandingan semifinal. Permainan menyerang dari He/Yu kembali tersulut sejak awal set pertama. Persis seperti yang dialami oleh NoLyn, FlaVi kali ini hanya mengandalkan ‘defense’ dan penempatan bola yang akurat untuk menghasilkan poin. Sempat ketat di awal set, FlaVi behasil memimpin 8-4, 10-8 dan 12-10 setelah jeda interval.

Delapan angka yang diperoleh Cina dari kesalahan FlaVi mengembalikan bola-bola serangan He/Yu, membuat keadaan berbalik untuk tandem Cina, 18-14. Namun perlawanan pasangan Indonesia tidak terhenti sampai disini. Kesalahan Yu Yang di depan net dan beberapa penempatan bola di bagian depan net dan area baseline membuat FlaVi mampu menyamakan kedudukan di angka 18. Yu Yang kembali membuat Cina unggul 19-18 saat serobotannya gagal dikembalikan oleh FlaVi namun smash keras Flandy menyetarakan kembali skor menjadi 19-19. Dua kesalahan pengembalian dari He Hanbin yang menyangkut di net akhirnya menutup set ini untuk Indonesia, 19-21.

Di set kedua, FlaVi sempat mengimbangi perolehan poin pasangan Cina setelah memperlambat tempo permainan. Sempat tertinggal 0-6 di awal set, FlaVi mampu memperkecil selisih poin menjadi 6-7 dan 11-12 setelah jeda interval. Permainan He Hanbin yang kurang rapi di depan net dan penematan bola yang akurat dari FlaVi membuat ganda Indonesia akhirnya mampu menyamakan kedudukan di angka 15 dan 15 sebelum tertinggal 16-17.

Di titik inilan Cina kembali menemukan irama permainan mereka dan terus tampil menekan. Pengembalian bola FlaVi yang seringkali tanggung dan mengambang di atas net membuat He/Yu dengan mudah meraih poin demi poin hingga ‘macth point’ 20-17. Maksud Vita untuk melakukan ‘placing’ di daerah baseline yang kosong ternyata gagal karena terlalu melebar sehingga membuahkan poin terakhir untuk duet tuan rumah, 21-17.

Indonesia kembali berpeluang merebut angka lebih banyak di set penentuan jika Vita tidak bermain ragu-ragu dan mengembalikan bola-bola out yang membuahkan poin untuk lawan. Di sisi Cina, He Hanbin juga banyak melakukan kesalahan di depan net sehingga perebutan poin kedua pasangan berlangsung cukup ketat hingga kedudukan 6-7 untuk FlaVi. Perebut mahkota Kejuaraan Asia 2008 tersebut mampu memetik 4 angka berturut saat Yu Yang mendapat ‘bad call’ saat bola yang diyakininya masuk ternyata dianggap keluar oleh wasit.

Dua kali net eror He Hanbin dan smash FlaVi dari bola-bola tanggung He/Yu membuat mereka unggul 11-7 saat jeda interval. Namun pertandingan kembali imbang 13-13 saat Vita kembali melakukan pengembalian yang melebar dan penempatan bola akurat dari He Hanbin di area yang kosong. Koordinasi antara pemain Indonesia juga terlihat renggang saat keduanya bingung siapa yang harus mengambil bola di bagian belakang. Kesalahan beruntun dari He Hanbin di depan net sempat membuah poin bagi Indonesia namun pengembalian Vita yang juga gagal di depan net membuat skor berjalan ketat hingga angka 17, 18 dan 19.

Vita yang biasanya mampu menjadi ‘playmaker’, kali ini lebih banyak bermain ‘placing’ dan hanya menunggu pengembalian dari Cina tanpa berinisiatif untuk melakukan potongan di depan net. Keadaan ini makin diperburuk oleh stamina keduanya pasangan Indonesia yang menurun sehingga banyak melakukan kesalahan sendiri. Vita yang sebenarnya memiliki ‘defense’ cukup baik kali ini justru seringkali terlihat tidak siap menerima serangan He/Yu dan gagal mengembalikannya dengan sempurna.

Pengembalian He Hanbin yang tergesa-gesa membuat Indonesia menyentuh ‘match point’ lebih dulu 20-19. Namun kelelahan fisik dan mental yang dialami oleh FlaVi membuat dua bola pengembalian yang dilakukan oleh Flandy melebar ke luar lapangan persis di tempat yang sama. Semangat FlaVi untuk mengejar poin di titik ini pun terlihat kontras jika dibandingkan dengan pasangan Cina. Tertinggal 20-21, Indonesia kembali mendapat ‘bonus’ angka dari kegegalan Hanbin di depan net sebelum akhirnya Cina memastikan perunggu setelah smash keras yang di jejalkan Flandy membentur net dan pengembalian Vita yang membentur net untuk kesekian kalinya, 23-21.

Dengan hasil ini, Flandy yang sudah berusia 34 tahun merasa kecewa karena gagal memenuhi ambisinya untuk tampil lebih baik dari Olimpiade sebelumnya. ”Saya tidak puas. Inginnya lebih baik dari hasil di Athena. Namun, apa boleh buat, kami sudah berusaha maksimal tetapi lawan lebih bagus,” jawab Flandy singkat perihal kekalahannya. Di Athena empat tahun yang lalu, Flandy berhasil menyabet perunggu bersama Eng Hian setelah menundukkan duo Denmark, Jens/Marthin di laga playoff. Namun di Olimpiade kali ini yang merupakan keikutsertaan Flandy untuk ke-4 kalinya sejak tahun 1996, Flandy justru tak mampu mencapai hasil maksimal saat peringkatnya jauh lebih baik dari Olimpiade sebelumnya.

Kekalahan FlaVi membuat beban untuk meraih medali terbaik bertumpu pada NoLyn. Meskipun diunggulkan di tempat teratas, NoLyn kembali harus menghadapi lawan agresif Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung setelah sebelumnya juga nyaris terjungkal dari He/Yu. Berbekal dua kemenangan beruntun di perempatfinal Malaysia SS 2008 dan babak pertama Korea SS 2008, duo Lee langsung mampu beradaptasi dengan permainan NoLyn dan tampil menekan sejak awal set pertama. Memimpin dengan 5-0 karena memiliki rotasi antar pemain yang lebih baik, dominasi Korea terus berlanjut hingga skor 9-3 dan 11-6 saat jeda interval.

Smash-smash keras Lee Yong Dae masih menjadi senjatan andalan Korea untuk menekan NoLyn meskipun di laga sebelumnya, duo Lee bermain cukup ketat dan menguras stamina. Menjadi pihak yang terintimidasi, NoLyn sama sekali tidak mampu mengembangkan permainan mereka seperti saat melawan ganda Cina dimana mereka masih mampu melakukan ‘placing‘ di bagian baseline dan menghasilkan beberapa poin. Poin demi poin hanya diukir NoLyn dari kesalahan sendiri pasangan Korea dan potongan bola-bola tanggung di atas bibir net.

Meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa saat melakukan smash, Lee Yong Dae ternyata tidak memiliki ‘defense‘ yang cukup tangguh saat beradu drive panjang di depan net. Bola-bola tanggung NoLyn yang mengambang di atas net membuat laju perolehan angka Korea semakin mudah, 14-7 dan 16-8. Smash beruntun Lee Hyo Jung dan serobotan Nova yang terlalu melebar mengantarkan duo Lee pada angka kritis 19-10. Pengembalian Lee Hyo Jung yang gagal melewati net menambah 1 poin untuk NoLyn namun netting Lily yang gagal dan pengembalian Nova yang gagal melewati net setelah mendapat servis Hyo Jung akhirnya menamatkan set ini 21-11.

Berharap terjadi perubahan drastis dari pola permainan NoLyn di set kedua ternyata sama sekali tidak terealisi. Persis seperti set pertama, duet nomor 1 dunia tersebut tak mampu keluar dari tekanan dan menampilkan permainan terbaiknya. Unggul 5-1 dan 9-2, keperkasaan ganda Korea tak terbendung saat menyentuh jeda interval 11-4 lebih dahulu. Nova sempat bangkit dan lebih banyak menyerang di titik ini. Smash-smash kerasnya terbukti ampuh mematikan langkah Korea dan memperkecil selisih poin menjadi 8-13 dan 10-15.

Selisih 5-6 angka terus berlanjut hingga poin-poin kritis. Meskipun ada perubahan strategi permainan NoLyn dan lebih agresif menyerang, kesalahan sendiri yang dilakukan keduanya karena pertanahan yang rapuh membuat laju duo Lee sulit terbendung, 18-12 dan 19-13. Bola potong Nova di depan net dan smash tajamnya sempat memperkecil selisih poin 17-19 namun bola tanggung Nova yang diselesaikan dengan sempurna oleh Yong Dae dan pengembalian Nova yang gagal melewati net akhirnya memastikan emas pertama Korea, 21-17.

Lee Yong Dae mengaku cukup senang dengan hasil yang diraihnya kali ini. Kegagalan di sektor ganda putra ternyata berhasil ditebus dengan medali emas di nomor lainnya. Sukses Lee Hyo Jung meraih 1 emas dan 1 perak dalam 1 Olimpiade akhirnya mensejajarkan dirinya dengan Gao Ling yang merebut emas-perak Olimpiade 2004 dan pemain ganda legendaris Korea, Gil Yong Ah yang menyabet emas-perak Olimpiade 1996. Mantan pemain ganda Korea, Lee Dong Soo, disebut sebagai orang yang paling berjasa membentuk dan melatih mereka selama ini.

Tunggal Putra, ‘Super‘ Dan Sumbang Emas Ke-3

Impian Malaysia untuk meraih emas perdana di Olimpiade kali ini akhirnya pupus sudah setelah unggulan ke-2, Lee Choong Wei kalah dua set langsung dari favorit tuan rumah, Lin Dan. Cina juga menambah perunggu dari nomor ini setelah pada pertandingan sabtu kemarin, Chen Jin behasil menjegal jagoan Korea, Lee Hyun Il.

Performa menawan peringkat satu dunia, Lin Dan sudah terlihat sejak set pertama. Smash-smash tajam berkali-kali menghujam keras lapangan Lee Choong Wei. Meskipun mampu dikembalikan oleh Lee, Lin Dan dengan sigap menunggu bola tanggung tersebut di depan net untuk dibenamkan kembali dengan drop shot tajam. Unggul 7-1 di awal set, kepemimpinan Lin Dan melaju mulus hingga akhir set pertama. Meskipun beberapa drop shot silang Lee sempat membuahkan angka, beberapa kesalahan sendiri peringkat dua dunia tersebut di depan net saat mengembalikan bola dan melakukan netting membuat Lin Dan kian Berjaya, 10-4 dan 13-5.

Netting tipis dan serobotan Lin Dan di depan net menjadi sumber poin terbanyak selain netting Lee yang gagal melewati net dan pengembalian yang melabar. Tertinggal 8-16, Lee smash Lee yang gagal dikembalikan dengan baik oleh Lin Dan menambah dua angka beruntun untuk tunggal terbaik Asia Tenggara tersebut. Smash Lin Dan dan pengembalian melebar dari Lee membuka kesempatan ‘match poin’ yang pertama bagi Lin Dan, 20-10. Penempatan bola Lee di bagian baseline dan pengembalian Lin Dan yang melebar mengubah kedudukan 12-20. Net silang Lin Dan membuat pengembalian bola tanggung dari Choong Wei sehingga Lin Dan yang sudah menunggu di depan net menyerobot bola ini, 21-12.

Permainan ‘super’ peraih mahkota Kejuaraan Dunia 2007 ini semakin efektif dan menawan di set kedua. Berbagai variasi serangan seperti smash, drop shot, net silang dan ketrampilan netting yang sulit dikembalikan menjadi senjatan ampuh untuk memimpin jauh 8-0 dan 11-1 saat jeda interval. Kecerdikan pemain yang merebut mahkota Swiss SS 2008 ini terlihat jelas saat mendorong Lee lebih banyak bermain di bagian belakang lapangan dengan bola-bola drop shot lalu menyudahi bola tersebut dengan bloking sempurna di depan net.

Setelah jeda interval set kedua dan mendapa arahan dari sang pelatih, Mishbun Sidik, Lee mengubah pola permainannya menjadi lebih agresif menyerang. Taktik ini cukup efektif untuk merebut beberapa poin namun belum mampu membendung laju skor Lin Dan untuk menyamai atau mengunggulinya. Memimpin dengan 13-4, Lin Dan mencoba memadukan serangannya dengan kaakuratan permainan drive dan netting tipis yang sulit dikembalikan. Hasilnya, 4 poin kembali diukir oleh Lin Dan kian mendekatkannya pada keping emas, 18-14.

Dua kesalahan sendiri dari Lin Dan mengubah skor 18-6 sebelum bola tanggung Lee di selesaikan dengan baik oleh Lin. Netting Lin Dan yang gagal melewati net dan serobotannya di depan net kembali menambah angka untuk Lee, 8-19. Bola tanggung Lee akhirnya mengantarkan Lin pada ‘match point‘ 20-8 dan smash keras Lin yang dikembalikan oleh Lee tepat membentur net sehingga memastikan emas ketiga untuk tuan rumah, 21-8.

Chen Jin di pertandingan sabtu kemarin juga menghentikan laju tunggal Korea, Lee Hyun Il setelah berjibaku 3 set, 21-16, 12-21, 21-14. Menguasai jalannya pertandingan di set pertama membuat langkah Chen sulit untuk di hentikan. Di set kedua, Lee berhasil meminimalisir kesalahannya dan lebih efektif dalam melakukan serangan. Chen Jin berhasil mengembalikan pola permainannya seperti pada set pertama. Sebalinya Hyun Il harus terbawa ritme tanding Chen Jing dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

Dengan hasil yang diukir oleh Cina sejak hari jumat saat perebutan medali ganda putri, negeri tirai bamboo tersebut berhasil mempertahankan gelar juara umum cabang badminton dengan 3 emas, 2 perak, 3 perunggu dan 1 semifinalis. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan raihan Cina 4 tahun lalu saat membawa pulang 3 emas, 1 perak, 1 perunggu dan 2 semifinalis. Indonesia meskipun secara unggulan pemain tidak memenuhi target yang diharapkan, raihan 1 emas, 1 perak, 1 perunggu dan 1 semifinalis akhirnya mensejajarkan tim merah-putih dengan negeri ginseng setelah 4 tahun lalu, para atlet Indonesia harus puas di posisi ke-3 di bawah Korea.

Dari sisi distribusi medali, Olimpiade tahun ini juga berbeda dari 4 tahun lalu karena kali ini semua emas, perak dan perunggu di sapu bersih seluruhnya oleh para atlet Asia sedangkan di Athena, medali juga dinikmati oleh 3 negara Eropa yaitu Belanda, Inggris dan Denmark. Berikut rekapitulasi lengkap distribusi medali cabang bulutangkis Olimpiade Beijing 2008 :

  1. Cina : 3 emas (TPa, TPi, GPi) , 2 perak (TPi, GPa), 3 perunggu (TPa, GPi, GC), 1 semifinalis (TPi)
  2. Indonesia : 1 emas (GPa), 1 perak (GC), 1 perunggu (TPi), 1 semifinalis (GC)
  3. Korea : 1 emas (GC), 1 perak (GPi), 1 perunggu (GPa), 1 semifinalis (TPa)
  4. Malaysia : 1 perak (Tpa)
  5. Denmark : 1 semifinalis (GPa)

Sebagai perbandingan, berikut rekapitulasi distribusi medali cabang bulutangkis Olimpiade Athena 2004 :

  1. Cina : 3 emas (TPa, GPi, GC) , 1 perak (GPi), 1 perunggu (TPi), 2 semifinalis (TPi, GPi)
  2. Korea : 1 emas (GPa), 2 perak (TPa, GPa), 1 perunggu (GPi),
  3. Indonesia : 1 emas (Tpa), 2 perunggu (TPa, GPa)
  4. Belanda : 1 perak (Tpi)
  5. Inggris : 1 perak (GC)
  6. Denmark : 1 perunggu (GC), 2 semifinalis (GPi, GC)
  7. Thailand : 1 semifinalis (Tpa)

Keterangan :
Tpa : Tunggal Putra; Tpi : Tunggal Putri; Gpa : Ganda Putra; Gpi : Ganda Putri; GC : Ganda Campuran

Sumber: bulutangkis.com

1 Comment »

  1. gregorio1988 Said:

    ah, dasar indonesia. Padahal kita bisa aja tuh dapat 2 medali emas,, tp ganda campurannya pada mlempem…ama korea aja kalah…gelloooo….*sebel mode:ON*


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: